Kota Bisa di Pasarkan.



sumber : properti.kompas.com

Kalian pernah berpikir, kenapa kota-kota di Indonesia cenderung memiliki struktur kewilayahan yang memusat pada satu titik? Kita ambil contoh mulai dari kota sebesar Jakarta. Jika kita buka smartphone, kemudian buka google maps dan ketik “Jakarta” kalian pasti akan melihat wajah perkotaan dengan rona yang cenderung bewarna putih, dan semakin ke tengah warnanya semakin gelap. Nah itu merupakan salah satu contoh dari teori konsrntris, dimana suatu kota memiliki struktur kewilayahan yang cenderung memusat. Untuk kalian yang belum faham kenapa rona perkotaan yang cenderung gelap ditengah kota Jakarta, rona gelap tersebut menandakan adanya bangunan yang tinggi,  sedangkan rona yang lebih terang cenderung menandakan bangunan yang lebih rendah. Rona gelap sendiri diakibatkan dari adanya cahaya matahari yang menyebabkan pantulan pada gedung-gedung pencakar langit dan juga membentuk bayangan dari gedung tersebut
.
Kita balik lagi pada pernyataan awal bahwa kota-kota di Indonesia cenderung bersifat konsentris. Alasan utama hal itu terjadi karena pada dasarnya teori tersebut muncul atas dasar sifat alami kota pada masa lalu. Dimana perkotaan dimasa lalu dibangun secara bertahap dan bertingkat, mulai dari pemukiman, kemudian tumbuh menjadi desa, hingga tumbuh lagi menjadi sebuah kota yang besar. Kalua kalian masih bingung, jika kalian dulu waktu tahun 2000an suka main Age of Empire I atau Age of Empire II, kalian tahu ketika kita berada diawal game kita hanya diberikan lima orang pekerja, satu orang tentara, dan satu orang raja. Nah dari situ kita dituntut untuk membangun peradaban hanya dari 7 orang tersebut dan kemudian setelah kita bermain selama 2-3 jam pemukiman yang hanya dihuni oleh 7 orang akan tumbuh menjadi ratusan orang dengan peradaban yang sangat maju hingga kalau di game itu kita dapat membangun sebuah universitas, pasar, barak tentara, hingga istana megah. Dari situ kita tahu kebanyakan kota di Indonesia berkembang dari masa kerajaan di wilayah nusantara  beberapa ratus tahun yang lalu. Nah karena hal tersebut, maka pembangunanya tidak tertata rapi (semrawut seperti pasar) dibandingkan dengan negara yang peradabanya lebih maju.

Pasti setelah membaca tuliasan diatas kalian pasti cenderung gak setuju karena kota-kota di eropa yang umurnya bahkan lebih tua dibandingkan dengan kota-kota di Indonesia, cenderung tertata dengan rapi. Alasan dari hal itu adalah peradaban bangsa eropa yang lebih maju dibandingkan dengan bangsa kita dimasa lampau hingga sekarang. Kita ambil contoh kota Paris, jika kita lihat kota paris dari google maps Nampak kota itu tertata dengan rapi seolah olah itu adalah sebuah puzzle yang digabung menjadi satu, beda dengan kota yang ada di Indonesia yang cenderung seperti nasi goring yang semrawut (istilah pribadi yang saya pakai). Pendidikan yang lebih maju dan teknologi yang mumpuni adalah factor utama yang menyebabkan hal itu terjadi. Kota lain di eropa seperti London, Roma, Madrid, Barcelona juga terlihat rapi dari atas sama seperti kota Paris
           
Walaupun pendidikan kita tertinggal jauh, namun sebenernya kerajaan islam di jawa pada jaman dulu juga terdapat aturan yang menata sebuah kota tapi tidak sekompleks yang dilakukan bangsa eropa. Dahulu kerajaan islam memiliki aturan dimana letak antara keraton/istana, alun-alun, masjid, dan pasar harus berdekatan dalam sebuah kota. Contoh yang sangat jelas, bisa kita lihat di Kota Yogyakarta/Jogja. Di kota jogja sendiri letak antara keraton Yogyakarta, Pasar Bringharjo,  Alun-alun utara, dan Masjid Kauman saling berdekatan. Nah itu adalah warisan peradaban masa lalu yang masih di implementasikan sampai sekarang.

Nah sekarang kalian pasti paham kenapa kota di Indonesia cenderung berantakan atau semrawut dalam (bahasa jawanya). sekian semoga bermanfaat dan have a nice day ;)  

Comments

Popular Posts