Baskara Putra seorang "Nabi Palsu"?


sumber : hai.grid.id
Daniel Baskara Putra, Dia adalah front man dari .feast yang terbentuk pada tahun 2017 jauh sebelum single miliknya yaitu "Secukupnya" yang meledak di pasaran setelah tampil sebagai soundtrack film NKCTHI yang rilis pada awal tahun ini. Begitu pula dengan penulis yang mengenal Baskara Putra sebagai Hindia. Pertama kali penulis mengetahui Hindia adalah saat dia merilis single pertama pada Bulan Maret tahun lalu yaitu "Evaluasi" yang merupakan lagu favorit penulis karena di lagu tersebut terdapat pesan moral yang sederhana tapi sangat membekas di penulis yaitu di lirik "hari belum selesai, biasa saja kamu tak apa". namun disini penulis tidak akan membedah albumnya tapi disini penulis ingin membuka tulisan ini dengan pertanyaan; Apakah Baskara Putra seorang "Nabi Palsu"?

Jika kita menjawab dengan harfiah Keagamaan pasti kita sudah dapat menarik jawaban dalam hitungan detik. Namun disini, maksud pertanyaan tersebut merupakan bias untuk menyatakan bahwa Baskara memiliki fans yang banyak dan fanatik. Namun disini yang menjadi masalah adalah mereka bersuara di twitter menyatakan bahwa mereka memiliki selera musik yang baik. dibandingkan dengan orang yang mendengarkan pemusik lain seperti Wali, D'masiv, Kangen Band, Noah, Kunto Aji dan lain sebagainya. Ada dua opini dari penulis mengapa hal ini terjadi. Yang pertama adalah memang mereka fanatik terhadap Baskara atau mereka sebenarnya merupakan haters-nya dia, sehingga mereka ingin menjatuhkan Baskara dalam proyek karir solonya dia yaitu Hindia.

Pertama, penulis ingin menjelaskan opini pertama yaitu mereka memang fanatik "garis keras'. Karena pada dasarnya  Fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya. Lebih jauh, Fanatisme dapat diukur dengan antusiasme dukungan dan ungkapan, seperti ekspresi wajah, keragaman atribut. Mengkerucut dalam konsep fanatisme tadi yang menyebutkan dapat diukur melalui ungkapan sehingga disini penulis menganggap ungkapan atau pernyataan dari mereka di twitter merupakan bentuk fanatisme yang mendasar. Pertanyaanya sekarang adalah kenapa fanatisme dihubungkan dengan masalah tadi? dalam teori fanatisme menyebutkan bahwa fanatisme adalah salah satu wujud dari rasa cinta dan memiliki dari suatu masyarakat pada pada club atau organisasi bahkan aliran yang diyakini telah memberikan kontribusi yang besar dalam dirinya dan hidupnya. Oleh karena itu, penulis berkesimpulan dalam opininya bahwa semua hal tadi diakibatkan oleh fanatisme dari mereka

Selanjutnya, mengenai opini kedua, disini penulis tidak akan mengambil dasar pemikiran dari teori psikologi yang membosankan :), tapi dari pengamatan awam dan sederhana penulis di twitter. Ada yang lucu ketika di twitter  mereka membuat pernyataan tersebut, yaitu ketika mereka ditanya salah satu lagunya Hindia mereka tidak tahu. Kejadian ini beberapa kali penulis lihat. Sehingga penulis merasa aneh mengapa saat merak adalah fans-nya Hindia tapi mereka tidak tahu lagunya? mungkin pertanyaan itu tidak akan penulis jawab karena pada dassarnya opini tersebut adalah opini bias yang tanpa adanya dasar pemikiran yang kuat.

Kesimpulannya adalah sederhana. Dalam hidup pada dasarnya merupakan perpaduan antara hitamn dan putih, baik dan buruk, benar dan salah, atau bahkan dalam konteks tulisan ini, setiap orang ada yang membenci dan juga ada yang suka dan pada akhirnya hal tersebut tidak dapat dihilangkan. Sehingga wajar pada dasarnya ketika ada "Nabi Palsu" akan ada yang menjadi pengikutnya dan ada yang membencinya.  

Comments